Masalah Kelengahan Klinis Pernah Berlangsung

Masalah Kelengahan Klinis Pernah Berlangsung

Kelengahan ada saatnya berlangsung bahkan juga di bagian masalah klinis sering di anggap remeh akan tetapi memiliki resiko besar.

Beberapa pasien secara tidak menyengaja terluka bahkan juga terbunuh di meja operasi karena kekeliruan atau kelengahan si dokter. Karena kekeliruan fatal itu, teror penjara dan hukuman berkuasa juga berlaku.

Remeh tetapi Beresiko, Ini  Masalah Kelengahan Klinis yang Pernah Berlangsung

Masalah malapraktik terjadi sekian tahun terakhir. Masalahnya juga bermacam bahkan juga kekeliruan dan kelengahan si dokter juga membuat gempar.

Baca Juga: Pemicu Rasa Mabuk waktu Bangun

Namanya manusia juga, bukan mustahil tenaga medis lakukan kekeliruan berbentuk malapraktik, yaitu praktek kedokteran yang keliru, tidak pas, atau melanggar undang-undang atau kaidah.

Kekeliruan semacam itu walaupun jarang berlangsung, tapi seringkali membuat orang takut untuk memeriksa diri ke dokter atau sarana service kesehatan walau sedang pada keadaan kurang sehat.

Di bawah ini ialah ringkasan contoh-contoh masalah kelengahan atau kekeliruan di dunia klinis. Baca sampai habis, ya!

  1. Membedah orang yang keliru

Merilis situs Syracruse, di tahun 2009 di St. Joseph’s Hospital and Medical Center, New York, Amerika Serikat (AS), seorang wanita yang hidup ingin diambil organnya untuk transplantasi. Beberapa pakar bedah menduga wanita itu telah wafat. Untungnya, wanita itu buka matanya saat sebelum pembandinghan dikerjakan.

Disebut jika mereka telah membedah otak pasien sebab berdasar catatan ada aglutinasi darah. Tetapi, sesudah dibedah, tidak diketemukan apa saja dalam otak pasien.

Sesudah dikerjakan pengujian, rupanya team klinis salah menyaksikan data pasien. Pasien itu sebenarnya hanya memerlukan penyembuhan untuk kepalanya yang lebam.

  1. Kekeliruan dalam memberi transfusi darah

Terima transfusi darah waktu dirawat inap ialah hal yang biasa. Sayang, proses ini dapat beresiko jika berlangsung kekeliruan, misalkan saat darah diserahkan ke pasien yang keliru.

Berdasar laporan dengan judul “Improving the Safety of the Blood Transfusion Process” tahun 2010 yang dikeluarkan oleh Pennsylvania Patient Safety Advisory (PPSA), tiap 10.000 unit darah yang ditransfusikan ke pasien, diprediksi salah satunya unit itu ialah darah yang keliru untuk pasien. Kekeliruan umum dalam transfusi darah biasanya berbentuk analisis darah dan pasien yang tidak pas.

Darah dapat dikasih cap yang keliru waktu diambil, dan tenaga kesehatan dapat memberi darah yang keliru sepanjang operasi atau waktu memasangnya dari sisi tempat tidur pasien.

Dari Juli 2008 sampai Juli 2009, ada ada 535 kekeliruan transfusi darah yang disampaikan lewat PPSA. Sekitar 14 salah satunya menyebabkan imbas yang serius dan seseorang pasien wafat waktu dioperasi.

  1. Salah dalam memberi obat atau jumlah ke pasien

Umumnya pasien memandang jika obat yang diterima dari dokter atau apoteker ialah obat yang jumlahnya telah pas atau disamakan. Tetapi, jika jumlahnya salah, efeknya dapat beresiko.

Selaku satu contoh masalah, merilis BBC, dua kembar prematur wafat sebab kekeliruan fatal seorang perawat. Bayi-bayi itu, yang lahir di umur 27 minggu di Stafford Hospital (saat ini berbeda nama jadi County Hospital), Inggris, dikasih morfin dengan jumlah mematikan, yakni sejumlah 650-800 mikrogram. Walau sebenarnya, jumlah yang semestinya mereka terima ialah 50-100 mikrogram.

  1. Perlengkapan klinis yang tercemar

Orang ke rumah sakit untuk dapat memperoleh pengatasan atas keadaan klinis atau penyakit yang dirasakan. Tetapi, kadang di sarana khalayak berikut banyak penyakit dan infeksi berasal. Misalkan penyakit karena perlengkapan klinis yang tercemar atau kebersihan staff yang jelek.

Merilis cleveland.com, ada masalah di antara tahun 2012 dan 2014, beberapa puluh pasien terserang penyakit Creutzfeldt-Jakob atau sapi edan yang fatal. Sumbernya ialah instrumen bedah yang tercemar di minimal empat rumah sakit berlainan di AS.

  1. Pasien telat memperoleh pengatasan

Unit genting (UGD) ialah ruangan untuk pasien yang memerlukan pengatasan selekasnya, bahkan juga dapat tentukan hidup dan mati seorang.

Selaku contoh, merilis New York Daily News, seorang wanita berumur 39 tahun dirawat Lincoln Medical Center, New York, AS, dibawa ke rumah sakit saat sebelum jam 5 pagi sesudah menyambat alami sakit di perut.

Walau wanita itu tercatat selaku pasien UGD dan test darah telah dikerjakan, tapi ia tidak memperoleh pengatasan sampai sore hari.

Pasien itu selekasnya dioperasi dengan masalah emboli. Tetapi, sayang pasien itu wafat di meja operasi 13 jam sesudah ia dirawat di dalam rumah sakit untuk perawatan yang semestinya dapat dikerjakan dalam beberapa waktu.

  1. Membedah organ badan yang keliru

Mencuplik dari situs Renal dan Urology News, di tahun 2010, dokter bedah salah mengoperasi organ badan dan buang ginjal seorang pasien lelaki yang sehat. Masalah ini berlangsung di Rhode Island, AS. Dokter menduga itu ialah kantung empedunya. Pada akhirnya, dokter itu dikenai denda sejumlah 5.000 dolar AS sebab kekeliruannya itu oleh The Florida Board of Medicine.

Masalah sama berlangsung di tahun 2011 di Queen’s Hospital, Inggris. Daily Mail menyampaikan jika seorang wanita hamil dengan umur kandung lima bulan direncanakan untuk operasi yang mewajibkan usus buntunya diangkat. Tetapi, waktu operasi dikerjakan, malahan ovarium pasien yang diangkat.

Tiga minggu selanjutnya, wanita itu alami kesakitan dan kekeliruan itu diketemukan oleh dokter. Namun, pasien itu alami keguguran dan mengembuskan napas terakhir kalinya di meja operasi.

  1. Kekeliruan analisis

Kemungkinan kamu pernah dengar narasi mengenai kekeliruan analisis melalui kabar berita atau narasi dari orang.

Menurut satu laporan dengan judul “Serious misdiagnosis-related harms in malpractice claims: The ‘Big Three’ – vascular moments, infections, and cancers” dalam jurnal Analisis tahun 2019, sekitar 40.000 sampai 80.000 kematian di AS tiap tahunnya terkait dengan kekeliruan analisis.

Kekeliruan dalam lakukan analisis ini menyumbangkan sekitar 80.000-160.000 masalah serius yang berbahaya untuk kesehatan warga tiap tahunnya.

  1. Sarana yang kurang mencukupi

Tujuannya di sini yaitu sarana rumah sakit yang kurang perawatannya. Misalkan bed rail atau pengaman tempat tidur pasien, sarana perawatan periode panjang, dan lain-lain.

Contoh masalahnya sempat dikabarkan di The New York Times, seorang pasien lanjut usia berumur 75 tahun diketemukan wafat. Dia alami napas sesak sesudah lehernya terjepit antara kasur atau kerangka tempat tidur dan bed rail.

Anjuran

  1. Dokter dan Rumah Sakit, harus mengenali hukum kesehatan agar mengenali hak dan keharusan setiap faksi hingga tidak ada yang berasa dirugikan.
  2. Jalinan dokter dan pasien harus dibikin seharmonis kemungkinan, supaya jika berlangsung perselisihan bisa dituntaskan secara kekerabatan.
  3. Dokter atau tenaga medis yang lain semestinya dalam lakukan servis klinis disamakan dengan kuasa yang dipunyainya dengan lagi tingkatkan profesionalisme dan kemahiran dan mengikut perubahan teknologi dan info.
  4. RSD selaku rumah sakit pusat semestinya lebih mengoptimalkan kembali servis dan pengatasan tiap perlakuan klinis ke pasien supaya memperoleh predikat baik dimata warga.
  5. Jika semua risiko kekeliruan atau kelengahan dijamin oleh dokter dan rumah sakit. Karena itu dokter dan rumah sakit harus lebih berhati-hati dan cermat dalam melakukan usaha pengobatan

Demikian beberapa masalah malapraktik atau kelengahan yang pernah terdaftar di dunia klinis. Meskipun seluruh cerita di atas tidak ada di Indonesia, tapi mudah-mudahan narasi ini dapat membuat kita lebih waspada, diimbangi servis kesehatan terhebat untuk semuanya susunan warga.